Posted by: kh1lafah | 13 July 2009

Tawakal dan Ikhlas

Ada beberapa perkara yang berkaitan dengan tawakal kepada Allah, yaitu:

Pertama: Tawakal berkaitan dengan masalah akidah. Yaitu meyakini Sang Pencipta, yaitu Allah, yang dijadikan tempat bersandar oleh setiap muslim ketika mencari kemanfaatan dan
menolak kemudharatan. Orang yang mengingkari perkara ini berarti dia kafir.

Kedua: Setiap hamba wajib bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya. Tawakal ini termasuk aktivitas hati, sehingga jika seorang hamba mengucapkannya tapi tidak meyakini dengan hatinya, maka ia tidak dipandang sebagai orang yang bertawakal.

Ketiga: Jika seorang hamba mengingkari dalil-dalil wajibnya tawakal yang qath’i (pasti), maka ia telah menjadi orang kafir.

Keempat: Tawakal kepada Allah tidak identik dengan mengambil hukum kausalitas ketika beramal (al-akhdzu bil asbab). Keduanya adalah dua masalah yang berbeda. Dalil-dalilnya pun berbeda. Buktinya Rasulullah saw. senantiasa bertawakal kepada Allah dan pada saat yang sama beliau beramal dengan berpegang pada hukum kausalitas. Beliau telah memerintahkan para sahabat agar melakukan kedua perkara tersebut, baik yang ada dalam al- Quran atau al-Hadits. Beliau telah menyiapkan kekuatan yang mampu dilakukan, seperti mengurug (menutup) sumur-sumur pada saat perang Badar dan menggali parit pada saat perang Khandak. Beliau pernah meminjam baju besi dari Sofwan untuk berperang. Beliau menyebarkan mata-mata, memutuskan air dari Khaibar, dan mencari informasi tentang kaum Quraisy ketika melakukan perjalanan untuk memutuhat Makkah. Beliau masuk Makkah dengan mengenakan baju besi. Beliau pun pernah mengangkat beberapa sahabat sebagai pengawal beliau sebelum turunnya Firman Allah:
Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (TQS. al- Mâidah [5]: 67)

Begitu pula aktivitas-aktivitas beliau lainnya ketika berada di Madinah setelah berdirinya Daulah. Adapun ketika di Makkah, beliau telah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyah. Beliau menerima perlindungan dari pamannya, Abû Thalib. Beliau tinggal di Syi’ib (lembah) selama masa pemboikotan. Pada malam hijrah, beliau memeritahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Beliau tidur di gua Tsur selama tiga hari. Beliau pun menyewa penunjuk jalan dari Bani Dail. Semua itu menunjukkan bahwa beliau telah melakukan amal sesuai kaidah kausalitas. Tapi pada saat yang sama beliau pun tidak menafikan tawakal, karena tidak ada hubungan antara tawakal dengan menggunakan kaidah kausalitas ketika beramal. Mencampur-adukkan antara keduanya akan menjadikan tawakal hanya sekadar formalitas belaka yang tidak ada dampaknya dalam kehidupan.

Dalil-dalil tentang kewajiban bertawakal antara lain:
Firman Allah:
(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 173)

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati… (TQS. al-Furqân [25]: 58)

Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (TQS. at-Taubah [9]: 51)
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 159)

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (TQS. at-Thalâq [65]: 3)

Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. (TQS. Hûd [11]: 123)

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada- Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (TQS. at-Taubah [9]: 129)

Barangsiapa yang tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (TQS. al-Anfâl [8]: 49)

Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan wajibnya bertawakal.

Dari Ibnu Abbas ra., dalam hadits yang menceritakan tujuh puluh ribu golongan yang akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa terlebih dahulu, Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan praktek ruqyah, dan minta diruqyah, juga tidak melakukan praktek tathayyur dan meraka senantiasa bertawakal kepada Tuhan-nya. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Ketika bangun malam untuk bertahajjud suka membaca: ….Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada- Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal. (Mutafaq ‘alaih).

Dari Abû Bakar ra., ia berkata; ketika kami berdua sedang ada di gua Tsur, aku melihat kaki-kaki kaum Musyrik, dan mereka ada di atas kami. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, maka pasti ia akan melihat
kita.” Kemudian Rasulullah bersabda: Wahai Abû Bakar, apa dugaanmu terhadap dua orang manusia, sementara Allah adalah yang ketiganya (untuk melindunginya,penj.). (Mutafaq ‘alaih)

Dari Ummi Salmah ra., sesungguhnya Nabi saw. ketika akan keluar dari rumah, beliau suka membaca:
Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah… (HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” an-Nawawi dalam Riyâdhus ash-Shâlihîn berkomentar, “Hadits ini shahih”).

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Jika seseorang akan keluar dari rumahnya kemudian membaca, “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah”; maka akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau sungguh telah diberi kecukupan, engkau pasti akan diberi petunjuk dan engkau pasti dipelihara.” Kemudian ada dua setan yang bertemu dan berkata salah satunya kepada yang lain, “Bagaimana engkau bisa menggoda seorang yang telah diberi kecukupan, dipelihara, dan diberi petunjuk.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya. Ia berkata dalam al-Mukhtarah, “Hadits ini telah dikeluarkan oleh Abû Dawud dan an-Nasâi, Isnadnya shahih”)

Dari Umar bin al-Khathab bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagimana Allah telah memberikan rizki kepada burung. Burung itu pergi dengan perut kosong dan kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan. (HR. al-Hâkim; Ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya”, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dan dishahihkan oleh al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah).

Tags:

Posted by: kh1lafah | 30 May 2009

Wali Allah versus wali thoghut

Wali Allah Versus Wali Thaghut

Dalam buku Jahiliyyah Abad Duapuluh, Muhammad Quthb menyebutkan adanya kriteria sebuah masyarakat jahiliyyah. Ia membantah pendapat yang membatasi jahiliyyah hanya pada masyarakat Arab di masa awal da’wah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Menurutnya di zaman kapanpun dan di negeri manapun suatu masyarakat pantas disebut masyarakat jahiliyyah bila memenuhi empat kriteria.

Pertama, tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Kedua, tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia (QS al-Maidah: 49-50).

Ketiga, hadirnya berbagai thaghut di muka bumi yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya. (QS al-Baqarah: 257).

Keempat, hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila.

Dalam poin ketiga disebutkan istilah thaghut. Apa dan siapakah thaghut? Dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menulis: “Thaghut” adalah variasi bentuk kata dari “thughyan”, yang berarti segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran dan melampaui batas yang telah ditetapkan Allah ta’aala bagi hamba-hambaNya. Tidak berpedoman kepada aqidah Allah ta’aala, tidak berpedoman kepada syariat yang ditetapkan Allah ta’aala. Dan, yang termasuk dalam kategori thaghut adalah juga setiap manhaj “tatanan, sistem” yang tidak berpijak pada peraturan Allah ta’aala. Begitu juga setiap pandangan, perundang-undangan, peraturan, kesopanan atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan dan syariat Allah ta’aala.”

Adapun oknum thaghut ialah siapa saja yang memiliki otoritas kepemimpinan. Dan dalam mengelola kepemimpinannya ia berlaku melampaui batas dalam menuntut ketaatan, penghormatan dan pengagungan dari para pengikutnya. Maka sebagian ulama mendefinisikannya sebagai:

طاغوت: كل ما يعبد من دون الله من صنم أو بشر أو جن أو غير ذلك

Thaghut: “semua yang disembah selain Allah berupa berhala atau manusia atau jin atau selainnya.”

Dalam sejarah, Allah ta’aala abadikan sosok thaghut yang paling fenomenal, yakni Fir’aun. Tatkala memimpin rakyat Mesir Fir’aun berlaku sedemikian represif dalam menuntut ketaatan rakyatnya sampai ia berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan yang maha tinggi.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

”(Fir’aun) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS An-Naazi’at ayat 24)

Dalam Islam keimanan seseorang baru menjadi benar dan sempurna bila keimanannya kepada Allah ta’aala diiringi pengingkarannya akan thaghut. Ia ibarat dua sisi mata uang atau koin.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“…barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah ta’aala, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al-Baqarah ayat 256)

Dalam suatu masyarakat jahiliyyah kehadiran thaghut sangat signifikan. Ada thaghut kecil, sedang dan besar. Ada thaghut organisasi, asosiasi, kelompok, suku, bangsa, lembaga, mafia atau partai. Ada thaghut perkotaan dan pedesaan. Dialah fihak atau person yang memperoleh perlakuan dalam hal ketaatan, penghormatan dan pengagungan berlebihan sampai menyaingi penghormatan, pengagungan dan ketaatan semestinya kepada Allah ta’aala.

Islam datang untuk menghapus eksistensi thaghut dalam segenap macam, bentuk dan skalanya. Sehingga semua warga menjadi hamba-hamba Allah ta’aala yang saling bersaudara, saling mencintai dan saling menghargai semata karena Allah ta’aala. Namun, dalam sebuah masyarakat jahiliyyah thaghut-thaghut yang ada saling bersaing, saling menjatuhkan dan saling berlomba memperlihatkan kebesaran pengaruh massa dan kekayaan.

Karena masyarakat orang beriman hanya mengagungkan, menghormati dan mencintai Allah ta’aala Yang Maha Esa dan Maha Tunggal di atas segala sesuatunya, maka masyarakat tersebut menjadi solid. Terpelihara kesatuan dan persatuannya karena Allah ta’aala semata. Masyarakat tersebut akan bergerak menuju cahaya yang terang. Sedangkan masyarakat jahiliyyah pasti menjadi masyarakat yang rapuh dan selalu potensial tercerai-berai, karena di dalamnya terdapat banyak thaghut yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Masyarakat tersebut pasti akan menuju kegelapan yang menghancurkan.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

”Allah ta’aala Wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, wali-walinya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah ayat 257)

Ketika Allah ta’aala dijadikan sebagai wali (pemimpin, pelindung dan penolong), maka orang-orang beriman akan keluar dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman. Sedangkan ketika orang-orang kafir menjadikan berbagai thaghut sebagai para wali mereka, maka mereka bakal menuju kegelapan kekafiran yang berujung pada derita neraka di akhirat.

Pahitnya lagi, menurut Sayyid Quthb, dalam sebuah masyarakat jahiliyyah fihak yang termasuk paling sering terjebak menjadi thaghut ialah para pemegang otoritas keagamaan. Artinya, tidak jarang ditemui dalam suatu masyarakat jahiliyyah justeru para pemuka agamalah yang menjadikan dirinya sebagai fihak yang berlebihan dalam menuntut penghormatan, pengagungan dan ketaatan dari para pengikut atau jama’ahnya.

Tags:

Posted by: kh1lafah | 9 April 2009

Fasbir Sabran Jamila

Fasbir Sabran Jamila (Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ” (Al-Baqarah :155-156)
Disebutkan dalam Al-Quran kata SABAR sebanyak 90 kali. Dinataranya mengandung pujian Allah terhadap para hamba-hambanya yang sabar, menerangkan pahala orang-orang yang sabar, atau menerangkan nilai yang diraih orang-orang yang sabar dan bahkan menggabarkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang sabar.
“Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik, sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu mustahil. Sedangkan Kami memandangnya mungkin terjadi. (Al-Ma’arij : 5-7)”

Fasbir Sabran Jamila, sebuah nasehat suci dari Sang Maha Suci kepada pembawa ajaran Suci, Rasulullah Muhammad alaihi salatu wassalam, ketika para kafir quraisy enggan menerima seruannya ke jalan yang benar. Siksaan dan ejekan tak luput selalu diarunginya. Ditafsirkan ayat tersebut oleh DR Aid AL-Qorni, seorang penulis dan sastrawan muslim asal Saudi Arabia, sebagai berikut:
Wahai Muhammad…
Jika kebatilan menyerangmu, kejahatan menentangmu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika hartamu sedikit, dan kesedihan pun menimpamu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika para sahabatmu terbunuh dalam peperangan, dan para pengikutmu berkurang, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika semakin banyak orang yang memusuhimu padahal kamu menyeru kebaikan dan para pembangkan mengelilingimu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika mereka menjebakmu dan mengamcammu, Fasbir Sabran Jamila !!
Jika anakmu, istrimu dan kerabatmu meninggal dunia, Fasbir Sabran Jamila !!
Fasbir Sabran Jamila, seruan indah kepada semua manusia yang tak luput dari dinamika dan problematika sosial, di rumah, di kampus, di tempat kerja dan di tempat-tempat umum lainnya. Siapapun manusianya, dia pasti memiliki egoisme dan amarah, namun keaktifan dua sifat tersebut bergantung kepada manusianya. Tidak ada manusia yang tidak butuh terhadap sabar. Kesabaran adalah sebuah keniscayaan bagi mnusia. Dan tuntutanya, bagaimana manusia bisa mengasah kesabarannya?? Inilah “madrasah” Allah SWT dan Rasulul-Nya dalam mendidik kita agar mampu mengendalikan sifat egoisme dan amarah dengan untaian mutiara “Fasbir Sabran Jamila”
Raslululah SAW, dimusuhi oleh pamannya Abu lahab sebelum orang lain memusuhinya. Buah hatinya meninggal di pangkuannya saat berusia 2 tahun, air matanya pun menetes membasahi pipi sang buah hati. Segera Ia memandikannya dan menguburkannya. Sepulangnya dari pemakaman ia pun tersenyum. Fasbir Sabran Jamila !!
Rasulullah SAW, di usir dari tanah kelahirannya saat istri kesayangannya dan pamannya Abu Thalib yang selalu mem-back up-nya pergi ke rahmatullah. Penduduk di kampungya bersekongkol memilih para pemuda tangguh dari setiap qabilah (suku), dan mereka mengelilingi rumahnya di kegelapan malam untuk membunuhnya. Dengan perlindungan Allah Rasul pun meninggalkan kampung halamannya. Fasbir Sabran Jamila !!
Rasulullah SAW, bersama Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur saat hijrah ke Madinah, sedangkan kaki-kaki kaum kafir saat itu nampak berpijak di depan gua. Dengan rasa takut Abu bakar berkata “Wahai rasulullah jika salah seorang diantara mereka menundukkan kepalanya ke arah gua, maka akan melihat kita” dengan senyum Rasul menjawab “wahai Abu bakar, jika dua orang berkumpul maka Allah lah yang ketiga” “Wa la tahzan innallaha ma’ana (jangan bersedih sungguh Allah bersama kita” (Ta-taubah : 40) Fasbir Sabran Jamila !!
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (AL-Kahfi :28)
Fasbir Sabran Jamila !! Nasehat suci yang juga ditujukan untuk melakukan perbuatan suci, beribadah. Rasulullah Meletakkan batu sebagai pengganjal perutnya disaat perutnya kempis tanda lapar. Dan bersabar untuk berpuasa menahan lapar di saat tak tersedia makanan di pagi harinya. Bersabar menahan kantuk untuk melaksanakan shalat malam. Bersabar menahan luka pada tumitnya akibat lamanya ia berdiri dalam shalat malamnya. Bersabar untuk menghadap Allah dengan membaca surat Al-Baqarah yang begitu panjang saat shalat dalam kesedniriannya. Bersabar menahan sakit demi mendapatkan shalat jamaah bersama para sahabatnya. Bersabar untuk tidak makan demi menghormati dan memuliakn tamunya. Masya Allah adakah orang yang semulai ini. Sungguh pantas engkau wahai Rasulullah untuk menjadi sauri tauladan bagi kami.
Rasulullah SAW, tanah menjadi lantai rumahnya, atapnya setinggi uluran tangannya. Dan jika berbaring tidur, kaki dan kepalanya menyentuh dinding rumahnya. Ditawarkan Jibril agar Allah merubah gunung batu menjadi gunung emas untuknya, ia pun menolaknya. Fasbir Sabran Jamila !!
Rekan-rekanku, kemampuan Rasulullah SAW memahami hakikat sabar dan merenungi ayat “Fasbir Sabran Jamila” membuat ia begitu tahan banting terhadap berbagai halangan dan rintangan. Akhirnya, selepas membaca nasehat ini, semoga kita yang keluar dari kampung halaman karena niat menimba ilmu bukan karena terusir, juga mampu bersabar dalam menghadapi semua problematika kehidupan yang fana ini dan sabar dalam menyiapkan saham serta investasi sebagai bekal di akhirat kelak. Sabar dalam menjalani shalat dan tidak tergesa-gesa. Sabar untuk duduk bersimpuh beberapa menit setelah shalat mengadu dan mengulurkan tangan kepada Allah, tanda meminta dan memohon. Dan juga sabar untuk selalu mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan, tanda peduli dan memberi. Agar kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah. Amiin. Percayalah, sungguh waktu akan membisikkan hikmahnya. Wallahu a’lam.

Tags:

Posted by: kh1lafah | 14 March 2009

Khasiat Sirsak

Di taman Buah Mekarsari,
ada penandatanganan MOU antara JBRO dengan TamanBuah Mekarsari.

Dalam kesempatan kunjungan ke area perkebunan,
disampaikan oleh salah satu pakar buah disana
bahwa Sirsak mempunyai manfaat yang sangat besar
dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker.

Untuk pencegahan, disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
Untuk penyembuhan, bisa dengan merebus 10 buah daun sirsak yang sudah tua (warna hijau tua) ke dalam 3 gelas air dan direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja.
Air yang tinggal 1 gelas
diminumkan ke penderita setiap hari 2 kali.
Setelah minum, efeknya katanya badan terasa panas, mirip dengan efek kemoterapi.

Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter, katanya cukup berkhasiat.
Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi,
bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh normal.

Sedangkan kemoterapi masih ada efek membunuh juga sebagian sel sel yang normal.

Demikian sekedar sharing, barangkali ada saudara atau teman yang membutuhkan mungkin info ini bisa diteruskan dan mudah mudahan bermanfaat

Posted by: kh1lafah | 5 March 2009

Islamic Book Fair

Assalamualaikum

Tampaknya saat ini giroh(semangat) mempelajari Islam semakin meningkat karena pada saat pameran buku Islam terbesar ditanah air “Islamic Book Fair” yang diadakan di Balai Sidang Senayan meskipun hari kerja cukup dipadati pengunjung, Pameran juga diikuti sejumlah penerbit terkenal, LSM Islam, bahkan diikuti juga oleh salah satu Bank Syariah nasional

Juga pada acara diskusi atau bedah buku yang pada hari Rabu kemarin berlangsung 2 sesi dengan tema yang menarik, kursi-kursi yang tersedia terisi penuh dan diskusi berjalan interkaktif, begitu banyak komentar dan pertanyaan dari para audiens yang segera direspon dengan baik oleh para nara sumber yang mempunyai kualifikasi sesuai materi yang didiskusikan, Alhamdulillah

Insya Allah akan semakin banyak umat Islam yang semakin cerdas dalam menentukan cara hidupnya yang harus selaras dengan tuntunan Syariat Islam yaitu Alqur’an & Sunnah, sehingga system Islam bisa kembali tegak dimuka bumi Allah ini dan konsep Rahmatan Lilalamin benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Ya Allah segerakanlah kondisi itu dimana Manhaj Nubuwah dapat terwujudnya Khilafah Rasyidah akan menaungi seluruh kaum muslimin, dan tetapkanlah kami dalah Aqidah yang lurus sebagai penyeru dan pengemban dakwah Rasul, Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Amin

Posted by: kh1lafah | 24 February 2009

Wisata Hati

“Tidak ada satupun hamba-Ku yang ikhlas kuambil harta yg Kuberikan padanya, kecuali Kuganti dengan yang lebih baik. Tidak ada satupun hamba-Ku yang ridha dengan bala yang Kutimpakan padanya, kecuali Kunaikkan derajatnya. Dan tidak satupun hambaKu yang bersyukur, kecuali Kutambah nikmatKu padanya”.

Di hadits qudsi yang lain Allah menyatakan:
“Barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmatKu, tidak bersabar atas bala yang Kutimpakan, dan tidak ridho terhadap keputusanKu, keluarlah dari langitKu dan carilah Tuhan selain diriKu”.

Mudah-mudahan semua jamaah dalam kondisi sebaik-baiknya mental dan fisik menghadapi Ujian Kenaikan Tingkat Kehidupan. Sebab sejatinya, tidak ada ujian kecuali buat naik kelas.

Posted by: kh1lafah | 19 February 2009

Change My Life

Assalamualaikum

Kata orang usia 40 adalah saat dimulainya kehidupan  Life begins at 40, ibarat hari 40 tahun  sudah pada posisi yang tidak lama lagi akan tenggelam, nah apa yang sudah dipersiapkan untuk kehidupan berikutnya.

Untuk itulah saya belajar blog ini untuk mencoba berbagi dan mencari masukan, atau dalam bahasa agama saling memberitahu dalam hal kebaikan dan mencegah dalam kemungkaran

Diusia hampir 40 tahun,  saya berusaha mempelajari secara utuh apa yang diperintahkan Allah kepada manusia melalui Nabi SAW, Khataman Nabiyyin, penghulu para nabi yang menjadi teladan bagi umat muslim.

Saudaraku, begitu banyak nikmat Allah SWT yang kita nikmati, maka kewajiban kita adalah bersyukur kepada-Nya, yaitu kita melaksanakan segala yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.

Itulah yang disebut Syariat Islam, yaitu petunjuk buat manusia segala perintah dan larangan itu pada dasarnya adalah untuk kemaslahatan / kesejahteraan seluruh manusia, karena Islam adalah Rahmatan Lilalamin, rahmat bagi semua manusia.

Ya Allah berikan keteguhanku dalam menjalankan dan mudahkanlah aku dalam hal mempelajarinya … Amin

Posted by: kh1lafah | 19 February 2009

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Categories